Leave me your


CHAPTER I:
FALLING PLUMAGE


     "Siapa?"
Angin berhembus sepoi-sepoi, menerbangkan bunga-bunga camomile di sekitar kami. Ia duduk memandangku. Di matanya jelas terlihat rasa heran. 'Manis' adalah kesan pertamaku ketika aku melihatnya. Sayapnya yang putih dan kecil mengepak perlahan, menyibakkan rambut pirangnya yang indah. Untuk sesaat aku merasa waktu telah membeku. Bidadari kecil di depanku itu kemudian tersenyum. Ia bertanya sekali lagi, "Halo...namamu siapa?" "Ah!" aku tersadar dari lamunanku, "A-Aku...B-Black Hawk..." Lalu ia tertawa. "Namamu aneh ya," katanya. Entah karena sinar matahari yang menyengatkah atau memang aku merasa malu padanya, tapi yang pasti pipiku agak terbakar. "I-Iya ya..." aku tak tahu harus berkata apalagi selain sependapat dengannya. Aku menyadari bahwa ia beranjak dari duduknya dan mendekatiku. Tetap dengan sebuah senyuman manis tersungging lebar di wajahnya yang polos.
     "Kalau aku -"
     "Ange, awas!!"
Tiba-tiba sebuah panah mengenai sayap hitamku. Aku memekik kesakitan sambil memegangi panah itu. "Bahaya, Ange, ayo kesini!!" seorang wanita berlari menghampirinya dengan cemas. "Tapi, Tenshi, dia teman -!" lengannya ditarik paksa sebelum ia dapat berbicara lebih jauh lagi. Keseimbanganku hilang dan kurasakan tubuhku semakin lemas. Meskipun aku sudah meringkuk tak berdaya, tetap saja yang lelaki membidikku dengan panah-panah kejam mereka. Anehnya, aku sedikit geli. Masakan mereka benar-benar berpikir bocah seperti aku ini akan mengamuk disini? Memangnya aku gila apa? Kutepis pemikiranku itu. Hei, hei! Ini bukan saatnya bergurau, bodoh, nyawamu di ambang pintu tahu!
      "Wahai Forbidden, ketahuilah! Ini bukan tempatmu!" sebuah suara menggema. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Pandanganku serasa kabur. Yang kutahu bahwa suara tersebut suara seorang wanita. "Adalah pelanggaran terbesar bagi Forbidden untuk menyusup ke tempat kami yang suci ini! Dan hukumannya jelas kematian!" Kugertakkan gigiku sembari menahan sakit di sayapku yang telah berlumuran darah segar. "Tapi," sambungnya, "karena kau masih anak-anak, kau masih dimaafkan. Pergilah, Forbidden, dan jangan pernah kembali lagi!" "Kenapa -!" Anak panah menjawabku. Benda runcing itu bersarang kembali di sayapku yang lain. Membuatku menjerit keras. Aku tak kuasa bergerak. Kucoba untuk tidak memfokuskan diriku pada perih yang amat sangat kurasakan.
     "Black-!"
     Kubuka sebelah mataku.
"Black Hawk!!" teriaknya. Sekilas kulihat wajahnya yang dialiri oleh tangisan abadi. Aku tak mau menutup mata...setidaknya tidak sekarang...kenapa, kenapa?!! Kenapa jadi begini?! Sialan... SIALAN!!! APA SALAHKU?! APA SALAHKU?!!
     Kemudian semua menjadi gelap.
Perlahan aku terjatuh menyusuri awan-awan putih yang lembut. Aku tak dapat lagi mendengar suara-suara mengingat betapa cepatnya aku jatuh melesat menembus langit ini. Kesadaranku semakin menghilang. Kurasakan air mataku mengalir dengan deras. Tanpa terduga, seseorang menangkap tangan kananku secara sigap. Lemas, kubuka kedua mataku.
     "Eagle..."
     'BLUG!'
     "Pagi, bocah!"
"Pagi..." sahutku lemas sambil mengangkat bantal di mukaku yang dilemparnya barusan. Ia berkata, "Ayo cepat bangun! Tropical Nightingale bakal marah kalau kamu telat datang ke apel pagi ini loh!" "Oh iya!" aku melompat dari tempat tidur segera. "Ngomong-ngomong..." pundakku ditepuknya, "kayaknya tadi aku dengar kamu nyebut namaku deh..." "Heh?" gumamku heran. "Jangan bilang kalau kamu..." ia menatapku agak takut-takut. "Ngaco!" bentakku, "Aku cuma teringat sama-!" Aku berhenti sejenak. Kata-kata dalam benakku seperti menolak untuk keluar. Tetapi aku memaksa dan meneruskan. "Wa-waktu itu..." Lalu iapun terdiam. Diacaknya rambut hitamku seraya tersenyum menyesal. "Sori," katanya. Aku menjawab dengan anggukan.
     "Apa aku mengganggu?" sebuah suara yang dingin menyela.
     "Starling!" aku tersentak.
Perempuan itu turun mendekatiku lalu menyentuh bibirku dengan telunjuknya. "Sepertinya kau masih belum bisa bangun pagi ya?" Aku menelan ludah ketika kusadari senyuman miliknya yang khas. "Me-memang kenapa?!" "Oh!" sahut Eagle tiba-tiba, "Apa si kecil Starling punya ide lagi?" "Begitulah...mau dengar?" "Tentu saja!" katanya kelewat semangat, "Bagaimana?!" "Begini..." Starling berbalik dan berbisik pelan ketika dengan segera aku menarik lengannya. Tergesa-gesa meninggalkan Eagle.
     "Duluan ya bos!"
Starling hanya diam. Namun pandangannya padaku tak kunjung lepas. Aku sih cuek-cuek saja. Dia biasa menatapku penuh perhatian seperti itu. Setelah agak jauh, kulepaskan ia dengan agak kasar. "Maksudmu tuh apa?!" serangku, "Kenapa kau senang sekali membuatku menderita hah?!" Ia hanya tersenyum kecil, "Aku tak berbuat apa-apa kok." Darahku semakin mendidih. Tanpa sadar aku memukul tembok di belakangnya dan menyudutkan dirinya dengan kedua lenganku. "Jangan main-main!! Kau pikir aku akan diam?! Kau pikir aku akan membiarkanmu memberi ide-ide aneh pada Eagle untuk mengerjaiku setiap hari hah?!!" bentakku. Ada kesedihan sekilas berkilat di matanya tetapi langsung hilang begitu saja. Ia pelan-pelan menyentuh wajahku kemudian menciumku. "Aku," sambungnya,"suka sama kamu." Seketika sayapnya yang hitam berkilat mengepak kencang, meninggalkanku jauh di atas. "Karena hanya kamu yang bisa dengan mudah kukerjai," ia tersenyum sinis sebelum pergi. Kuhela nafasku dalam-dalam. Selalu seperti ini, pikirku, aku memang tak pernah bisa marah padanya. Ia selalu tahu cara kabur dariku. Menciumku, memelukku...apapun ia lakukan agar bisa lepas dariku dikala aku mulai membentaknya. Kusibak rambut depanku dan menyisirnya ke belakang. Cewek aneh...
     "Bengong aja nih?! Semangat dong!"
Kepalaku dipukulnya. "Oh, hai Seagull..." balasku. "Hai juga adikku. Feeling bad mood today?" ia merangkul bahuku. "Biasa...si Starling..." gumamku pelan. "Diapain kamu hari ini sama dia?" tanyanya. "Dicium," aku secara singkat menjawab. Seagull berdecak, "Aneh...sudah berapa lama ya dia terakhir kabur dari kamu dengan cara menciummu? Pasti kamu tadi marah sekali sama dia..." "Sepertinya sih..." kulangkahkan kakiku. Kemudian tak sengaja kami bertemu Finch yang sedang asyik bercakap-cakap dengan seorang anak perempuan. "Hey honey~~!" panggil Seagull lantang. Finch melirik sebentar lalu kembali mengobrol. "Kurang berhasil ya?" aku tersenyum. "Ah...dia cuma gengsi..." Seagull menggaruk bagian belakang kepalanya, "Wanita memang susah dimengerti, tapi justru karena itu aku penasaran sama mereka." "Yah terserahmulah," sahutku.
     "Jadi-"
     "Wah! Sudah mulai dari tadi!"
     "Cepat, Black Hawk!"
Tropical Nightingale melanjutkan, "Demi menyambut hari besar Mirth yang akan berlangsung sepuluh hari mendatang, diadakan shift dalam pekerjaan kalian. Jam kerja masing-masing diperpendek dan malaikat kematian yang sedang tidak bekerja diwajibkan membantu persiapan di hall utama. Jadwal shift telah kami bagikan kepada Guardian kalian masing-masing. Baiklah, apel kali ini selesai. Selamat bekerja." Kerumunan malaikat mulai memisahkan diri, begitu juga denganku. Mirth sudah datang ya...cepat sekali..."Mirth nanti kamu umur berapa?" tanya Seagull, membuyarkan pemikiranku. "Eh...15," balasku, "Kalau kamu?" "17 tahun," ia meringis, "Berarti aku yang paling tua diantara kalian!" "Dan paling kekanak-kanakkan," sela Finch, "Halo, Black Hawk." Aku tersenyum ramah, "Hai." "Sayangku~~ kamu jahat sekali~~" spontan Seagull memeluknya dan spontan pula Finch menonjoknya. "Aduh~~" rintihnya. "Siapa 'sayang'-mu?!" katanya tajam. Aku kelabakan menenangkan mereka. Pokoknya kalau Seagull mulai menggoda Finch pasti selalu berakhir dengan kekerasan! Kalau aku tak menengahi mereka..."Umm, Finch, Mirth nanti umurmu berapa?" Ia memandangku, "15. Kenapa?" "Enggak...nanya aja..."
     "Aku 14 loh."
Starling berbisik di telingaku. Aku terkejut dan seraya menukas, "Siapa yang tanya?!" "Kenapa marah-marah?" ia tersenyum simpul. Kugertakkan gigiku menahan amarah. "...Maaf." Seagull menepuk punggungku. "Sabar ya." "Trims..."
     "Auramu...melemah."
     "Ah, Blackbird!"
     Seagull menyapanya hangat. Walau ia menganggap gadis itu aneh tapi ia tetap berlaku ramah terhadapnya. Ia berjalan tergontai, mendekatiku perlahan. "Wahai sayap rajawali...berhati-hatilah..." ia memberiku senyuman dingin sekilas. Aku balas tersenyum, "Terima kasih, Blackbird." Lalu dengan mendadak ia terbang menjauhi kami. Seagull melirik jahil ke Starling, "Saudara kembar sama anehnya..." "Coba ulangi," tatapnya tajam. "Tidak...bukan begitu," aku menyanggah. Mereka serempak menoleh. "Dia benar kok," sambungku.
     "Sudah Mirth ya?"
     "Iya."
     "Cepat ya..."
     "Iya..."
Eagle mendesah. "Semangat dong, bocah!" jitaknya. "Aduh!" pekikku, "Iya iya..." "Jangan dipaksa, Eagle," Parrot menegurnya, "Apa kabar, Black Hawk?" "Baik," senyumku, "Nona Parrot sendiri, apakah sehat-sehat saja?" Ia menatapku lebih ramah, "Wah, terima kasih sudah mencemaskanku, tapi aku tak apa-apa kok." "Syukurlah..." "Senang merayu ya? Bagaimana kalau kau rayu aku juga?" sela seseorang. "Ah...nona Peacock suka bercanda nih..." aku tertawa gugup. Tiba-tiba Tropical Nightingale melompat masuk ruangan Tea Garden yang dipenuhi sulur-sulur tanaman ini. Dinding peach yang terambati dedaunan berbagai jenis menciptakan atmosfir penuh ketenangan. Terpadu baik dengan sinar lembut yang melewati kaca-kaca sebagai pengganti atapnya. "Tak ada waktu untuk bersantai, Guardians, panggil anak asuh kalian! Awasi mereka!" perintahnya. "Baik," para Guardians serentak menjawab. Sebelum beranjak, Tropical Nightingale sempat menepuk bahuku lalu tersenyum menghibur. Dan aku balik tersenyum kepadanya. Tapi senyuman itu tidak berlangsung lama ketika...
     "Jangan bilang jam kerjaku sama denganmu..."
     "Sayangnya sih iya."
     "Dan jangan bilang bahwa daerahku sama denganmu..."
     "Mungkin lebih parah. Aku rekanmu."
     "Aduh..."
Kutepuk mukaku dengan telapak tangan kemudian kuusap pelan. Aku mendongak dan memejamkan mataku erat-erat. Starling, yang melihatku, lagi-lagi hanya terdiam. Beberapa saat aku menahan nafas lalu dengan berat kuhembuskan kembali. "Ayo jalan," sahutku, "Siapa saja yang meninggal hari ini?" Iapun memeriksa daftar dan membacakannya.
     "Ayah! Ayah! Kumohon jangan tinggalkan kami!"
     "Aku...menyayangi kalian...berdua..."
     "Suamiku, jangan pergi!!"
     "Ayah!!"
     "Dio...jaga...ibumu..."
     'PIIIIIIIIIIIIIIIIIIP!!!!!!!!!'
     "Tidaaak!!! Ayaaah!!!"
     "Suamiku!!!"
"Drama yang sangat tragis," gumam Starling. "Dasar tak berperasaan," lirikku gusar. "Loh? Aku salah apalagi? Ini kan tugas kita," katanya tenang. "Bukan itu maksudku!" mendadak aku jadi kesal. "Black Hawk, itu rohnya," tunjuknya dengan santai, "Tak kau ambil?" Aku berdecak kemudian menangkap roh tersebut, yang dengan limpung melayang ke angkasa. "Itu yang terakhir," sahutnya ketika aku mendekat, "Sekarang giliran Finch dan Sparrow untuk menggantikan kita." Dalam hati aku mengucapkan syukur tanpa henti. Tetapi Starling menatap ke arah lain.
     "Ada Pure..."
Seraya aku menoleh ke arah pandangan Starling. Sesosok malaikat berambut lurus pirang sedang menyapa seorang anak perempuan di rumah sakit itu. Anak perempuan tersebut menyambutnya dengan ceria. Ia menatap matanya lalu berdoa sungguh-sungguh. Kulihat malaikat itu tersenyum ramah padanya. Bukan, pikirku. Serta merta aku mengajak Starling untuk kembali. Selama perjalanan, kami berdua hanya berdiam diri. Kesunyian masih terasa saat kami memasuki gerbang depan, menginjak daratan hijau yang luas terbentang. Yap, daratan, bukan awan. Tapi daratan ini melayang layaknya awan. Dan jangan bertanya kenapa padaku! Mana aku tahu hal seperti itu! Tiba-tiba, di tengah keheningan, Starling angkat bicara.
     "Bukan ya?"
     "Apanya?"
     "Pure tadi."
Aku tak menghiraukannya tapi ia tidak perduli. "Mirth sudah datang lagi ya..." gumamnya. "Mm," sahutku datar. "Sudah berapa tahun ya? Coba kuhitung...1...2...ah! Sepuluh rupanya!" "Diam!" cetusku tanpa sadar. "Sepuluh tahun penantian dan kau masih mengharapkan bidadari kecilmu yang telah melukai sayapmu itu..." bisiknya dengan tajam. Aku merasa marah sekali. "DIAM!!" kubekap mulutnya dengan telapak tanganku lalu kudorong tubuhnya sampai memebentur pilar di belakangnya. Aku mendesis, "Itu bukan urusanmu!! Jangan ikut campur!!" Ia menatapku tanpa ekspresi kemudian tersenyum sedih. "Iya ya...itu bukan urusanku..." katanya getir. Giliran aku yang heran kali ini. Dengan refleks kulonggarkan peganganku terhadapnya. Ia rupanya mengincar kesempatan itu dengan mendorongku kuat-kuat. Aku terkejut atas kelakuannya. "Kau memang tak pernah berubah," cemooh gadis itu. Seperti biasa, ia meninggalkanku. Kupejamkan mataku dan kupukul pilar itu dengan kesal. "SIALAN!!" geramku. Sialan!! Kamu ada dimana?! Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi!! SIALAN!!! Kubenamkan wajahku dalam-dalam.
     "Kok kau lama sekali?"
     "Enggak..."
     "Partnermu dimana?"
Aku menatap Seagull sekilas. "Mana kutahu!" aku berbalik memendam kekesalanku. "Kenapa lagi anak itu?" tanya Seagull kebingungan.
     Sinar...
Aku masih ingat bagaimana sejuknya angin yang bertiup dikala itu...bagaimana hangatnya sinar mentari yang memancar menimpa kami...bagaimana harumnya bunga-bunga camomile yang berterbangan melewati...bagaimana indahnya padang bunga itu dan bangunan-bangunan putih yang kokoh di latarnya...Aku tak mengatakan bahwa disini tidak seindah disana...suasana disini menyenangkan...tetapi tetap saja...
     Aku merasakan keinginan kuat untuk pergi kesana...
     Ke Pure Angels World...
Meskipun aku akan dibunuh kali ini jika aku ketahuan, aku tak perduli...Aku ingin kesana...ingin pergi kesana...seakan-akan ada sesuatu yang menarikku, mengajakku untuk memasukinya...
     Seperti panggilan...lembut dan tenang...
     Entah kenapa...aku...
     Merasa rindu...
     "Boleh aku ikut duduk?"
Aku melihat pemilik suara itu. Dengan enggan kupersilahkan dia. Iapun duduk tak jauh dariku, menutup rapat mulutnya selang beberapa waktu. Tiupan angin senja menerpa rambut hitamku dan menyibakkan kemeja longgar yang kukenakan di atas T-shirt abu-abu gelap. Dandelion-dandelion kecil menari-nari di sekeliling padang rerumputan. Aku menengadah untuk menikmati redupnya matahari jingga yang ramah. Hal berikut yang kutahu ialah punggungku telah merebah di tanah datar tersebut, dengan harapan aku dapat terlelap seketika. Namun, saat mataku tertutup, suara-suara dalam kepalaku kembali terdengar. Merayuku untuk mengunjungi lagi firdaus yang jauh disana...
     Kuggenggam rambut depanku dengan paksa.
     "Sial!" lirihku gusar.
     "Kenapa?"
Tampak dua mata sehitam batu Hornblende melihat balik. Ada sedikit kekhawatiran dibalik ketenangan sikapnya. "Starling..." aku mendesah, "Tidak, tak ada apa-apa..." "Kau yakin?" tanyanya sekali lagi, untuk meyakinkan. "Aku tak apa-apa," kujawab lebih tegas sambil membalik badanku dari hadapannya, "Dan tolong jangan ganggu aku lagi." Aku berbaring, mencoba untuk kembali tertidur. Sesaat kami terdiam.
     "Kau tahu..."
     Aku tidak menjawab.
     "Aku...ingin sekali pergi ke Cloud Nine..."
     Mendadak aku dibuatnya terbelalak.
Ia melanjutkan, "Capital of Pure Angels World...Cloud Nine...Aku ingin, sangat ingin melihatnya..." Aku bangkit dan bertanya, "Kau...juga?" Matanya berkedip lalu ia tertawa mengejek. "Masa kau tak tahu?" katanya, "Tentu saja! Semua yang ada di Seventh heaven ini punya keinginan yang sama, bodoh!" "Maksudmu?" aku semakin bertambah heran. Ia memberiku senyuman khas sekilas kemudian menjelaskan, "Cloud Nine itu...awalnya adalah 'tempat lahir' Forbidden juga..."
     Aku tersentak.
     "...Apa?"
     Dipejamkannya mata seraya mengangguk pelan.
     "Telur-telur yang dikirimkan Stork saat Mirth sebenarnya telah disortir dahulu di Cloud Nine. Begitu diketahui yang mana telur Pure dan yang mana telur Forbidden, mereka dipisahkan. Selanjutnya, Stork sebagai wakil bertugas mengambil telur-telur Forbidden kemudian menyebarkannya pada yang mengharapkan." Suaranya terhenti. "Masakan kau tak tahu hal sesederhana it-" ditolehkannya kepala ke arahku. Dan dia terperanjat melihat ekspresiku. Kemarahan bercampur dengan ketidakpercayaan. "Jadi..." gumamku, "...kita ini tak lebih dari buangan?!" Kurang ajar...kurang ajar!! Apa keberadaan kami sebegitu tak pentingnya di mata mereka?!! Apa kami mereka anggap begitu tak sepadannya bila disetarakan sebagai sesama malaikat?!! Lalu mereka pikir kami tak berhak menginjak 'tempat lahir' kami?!! Hanya karena sayap yang berbeda ini...dan halo yang pecah ini...kami....KURANG AJAR!!! APA MEREKA PIKIR DIRI MEREKA LEBIH TINGGI DARI KAMI?!!! KITA SAMA-SAMA CIPTAAN-NYA!!! LALU KENAPA MEREKA-!!! Kupukul rumput yang kududuki dengan tinjuku. KURANG AJAAAAR!!!!
     Lilitan lengan di leherku membawa kesadaranku kembali.
     "Jangan marah..."
     "..."
Aku mengernyitkan dahi, "...Aku benci keadaan seperti ini!" Starling mempererat pelukannya, "Bencilah..." Aku menghela nafas dan menyentuh lembut lengannya di leherku. "Tapi...aku tidak akan berpaling..." sahutku.
     "Eh?"
"Hal yang tak dapat kita semua elakkan yakni pemikiran kedua belah pihak yang sudah terlanjur kotor. Lagipula, sekali seseorang membenci maka bencilah ia sampai mati. Aku tak tahu apakah kita dapat mengubah pemikiran seperti itu nanti, hanya saja..." Sadar bahwa Starling bingung atas kata-kataku, aku tersenyum menenangkan.
     "Pure Angels World sangat mempesona," akupun bercerita, "Padang rumput luas, angin yang sejuk, bunga-bunga harum, betul-betul membangkitkan kerinduan. Sepintas memang tidak ada bedanya dengan disini, tapi ada sesuatu, yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, menarik kita para Forbidden untuk memasuki sejenak walau nyawa menjadi taruhannya."
Mata Starling berkaca-kaca. Jelas kelihatan kalau ia ingin sekali pergi kesana. Aku mendesah perlahan.
     Lalu kuelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Aku berkata padanya, "Suatu hari, ketika langit lebih biru dan awan lebih putih, kau akan kuajak kesana." Ya...ketika Angels World lebih bercahaya dari yang sekarang ini, aku pasti..."Kita bersama-sama akan pergi kesana..."
     Kini aku mengerti...
     Kenapa aku begitu ingin melihatnya...
     Dan alasan aku melanggar peraturan 10 tahun lalu adalah karena kerinduan ini...
     Kerinduan akan tempat yang kupanggil 'rumah'...
Secara cepat, Starling menciumku sehingga membuatku terjerembab ke belakang. Kebalikan dari matanya yang pelan-pelan menutup, mataku malah semakin melebar karena keterkejutan. Lengannya tetap melingkari leherku, hanya saja lebih erat dari yang tadi. Boleh dibilang ciuman ini bukanlah ciuman yang biasa digunakannya untuk kabur, karena itu mukaku mulai memerah. Kurasakan detak jantungku berdegup semakin kencang dari semula. Kemudian dia melepaskan bibirku dan tersenyum manis. "Terima kasih..." desahnya. Di sudut matanya terdapat setetes air mata, laksana embun pagi di atas daun. Ia lalu meletakkan kepalanya di dadaku sambil tetap memelukku. Aku menghela nafas dan membelai rambutnya.
     "Sama-sama..."



+ Padahal kita sesama malaikat,
tapi kenapa kita berselisih seperti ini? +




END OF CHAPTER 1



FORBIDDEN*ANGELS: Link me!!!! Silly Suicide: My Blog!!!! Cupid Is Dead: My Image Gallery!!!! Chibi Armor: Edward&Alphonse Fanlisting!!!! Kaze hikaru Fanlisting!!!! Zen wa Ichi: Edward&Alponse&Izumi Fanlisting!!!!
Best viewed with 800x600 frame
This story is Indonesian only

as known as ::: ika || baka_cupid || lenka || T.e.N || DeadcupiD || dako-chan || sadako || ka-es || ka-shal || gondrong || idrong || k^chal || sA-chan || sAna-chan || DJ-Ahil || shaliTa-chan

« ? otaku blogs # »    indo.blogs

Has lived for 16 years. She or he lives in Indonesia and is addicted with animemanga

works ::: song for you || i'm with you || i started a joke || desperado || i am the king, aren't i? || bitch || just a day || encounter || i will survive || breaking the habit || weird || unfair

quizes ::: ManKin [1] || ManKin [2]

layout ::: This layout is originally made by me.I tried to focus on the wings image but seemed that I couldn't find any wings image in my compie, so I made it with brushes only. This is made by the help of Adobe Photoshop 7.0, the brushes from Vbrush and the fonts are from Font Face.



Weblog Commenting by HaloScan.com


THE FORBIDDEN ANGELS

Black Hawk ::: 1/2 cowok. 15 tahun. Sayapnya adalah sayap rajawali. Anaknya susah ditebak tetapi sangat pintar dan sering mempertanyakan segala hal. Diam-diam iri pada Pure Angels, meskipun yang ditunjukkannya adalah kebencian. 'Keinginan unuk pulang'-nya juga yang paling kuat. Anak asuh Eagle.

Starling ::: 1/2 cewek. 14 tahun. Sayapnya adalah sayap jalak. Pendiam dan terkesan anak baik-baik , namun otaknya penuh dengan ide-ide licik yang gila. Gemar sekali mengerjai Black Hawk. Nantinya, suatu hal akan merubah seluruh hidupnya. Anak asuh Parrot.

Seagull ::: 1/2 cowok. 17 tahun. Sayapnya adalah sayap camar. Ramah juga senang menggoda wanita. Dibalik itu ia berkemauan keras. Ia mungkin yang paling jujur diantara semua. Menganggap Black Hawk sebagai adik sendiri. Anak asuh Raven.

Finch ::: 1/2 cewek. 15 tahun. Sayapnya adalah sayap parkit. Cerewet dan paling suka menasehati angel lain dengan tajam, tapi nasehatnya 100% jitu. Hobinya meramal dengan Tarot selain membaca buku-buku sulit. Anak asuh Peacock.

Blackbird ::: 1/2 cewek. 14 tahun. Sayapnya adalah sayap jalak hitam. Saudara kembar Starling. Gemar dengan segala sesuatu yang berbau darah dan kematian. Sifatnya tertutup, namun tak segan-segan memperingatkan temannya akan bahaya. Anak asuh Bat.

Rotten Egg ::: Telur berwarna putih yang tak pernah menetas. Ditemukan Starling di padang Dandelion.

THE GUARDIANS

Tropical Nightingale ::: 1/2 wanita. Sayapnya adalah sayap bulbul. Pemimpin dari Forbidden Angels. Cepat naik darah, tapi bijaksana dan natural-leader. Anak yang diasuhnya telah 'meninggal'. Sejujurnya, beban yang ia tanggung lumayan berat.

Eagle ::: 1/2 pria. Sayapnya adalah sayap elang. Tegas dan cool. Agak sedikit terlalu melindungi Black Hawk. Paling mahir main Lucky Seven. Kadang-kadang, ingatan akan masa kecilnya suka menghantui dalam wujud mimpi.

Parrot ::: 1/2 wanita. Sayapnya adalah sayap nuri. Lemah lembut sekaligus sangat pandai menyanyi. Sifatnya keibu-ibuan pada siapa saja. Sayang, karena kondisi badannya, hidupnya tinggal hitungan waktu. Ada rahasia diantara dia dan Bat.

Raven ::: 1/2 pria. Sayapnya adalah sayap gagak. Seorang mood maker dan yang paling ceria. Statusnya sebagai playboy kelas berat sangat membuat kesal Seagull yang sering diejeknya. Namun ia menghormati wanita. Amat mendambakan Peacock.

Peacock ::: 1/2 wanita. Sayapnya adalah sayap merak, yang lebih mirip hiasan. Mengutamakan penampilan, modis, dan paling cantik diantara semua. Agak tertarik dengan Raven karena 'keberaniannya'. Dialah yang membuat Finch ketagihan membaca.

Bat ::: 1/2 pria. Sayapnya adalah sayap kelelawar. Karena perbedaan yang mencolok ini, ia sempat dijauhi angel lain. Kini ia menjadi amat pendiam dan dingin. Ia juga jarang tersenyum serta seorang perokok berat.

THE PURE ANGELS

Feather ::: 1/2 cewek. 15 tahun. Kesan yang diberikannya adalah polos dan innocent, namun ia tidaklah 'sepolos' dugaan angel lain. Salah satu kepandaian miliknya yakni mengembalikan kata-kata. Wajahnya yang amat sangat manis menutupi keinginan dirinya untuk menghancurkan Pure Angels World.

Wings ::: 1/2 cowok. 16 tahun. Sudah dianggap kakak sendiri oleh Feather, meskipun ia sendiri menginginkan lebih. Walaupun konsisten dan penuh tanggung jawab, dia paling lemah sama air mata wanita. Teman sejak kecil Halo.

Halo ::: 1/2 cewek. 16 tahun. Agak prejudis tetapi sangat baik. Ia sayang pada Feather, tetapi suka cemburu bila Wings begitu perhatian padanya. Penerus kepemimpinan Pure Angels World berikutnya. Dia adalah angel yang pertama kali menyadari keanehan dalam pemberian nama mereka bertiga.

Puffy ::: Awan peliharaan Wings tapi diberikan pada Feather. Hanya mampu berkata "Puu".